• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Monday, February 15, 2010

Ruang Tunggu

February 15, 2010 // by afurqannn // , , // No comments


Cuaca di musim terik hari ini tak seperti biasanya, awan tampak menumpuk tebal di atas langit, dan semua warna warna dedaunan hijau, pohon, jalan raya, tembok, lampu merah, tampak sayu, seperti warna aura wajahku yang tenggelam dalam ikut tenggelam dalam cuaca hari ini. Sungguh ironis, walau matahari kali ini enggan mewarnai aspal di jalan raya, hari ini terasa bumi tertumpuk oleh warna kelabu, jalan raya dan pepohonan yang menghiasinya seakan akan murung bersedih. Hari ini aku serasa memakai kacamata berwarna abu abu, atau kota Malang yang indah ini hanya terlihat berwarna hitam putih, suram!, retina matakau hanya menangkap dua warna itu, seakan hari ini mataku telah diatur dengan mode grayscale, telingaku seakan tak mampu mendengar suara mesin mesin kendaraan, suara klakson yang berdering keras disekitarku, hanya terdengar di telingaku, sepintas suara hiruk pikuk manusia yang tergesa gesa karena ruanya hujan akan segera menyapa, membasahi kulit bumi yang telah lama dijemur, kering kerontang. namun kurasa, hujan ini tak datang untuk membasuh, mungkin langit sedang menangis. Dan aku hanya duduk disini, di salah satu bangku tunggu di Stasiun Kotabaru.

Aku memandang keluar, melewati sebuah kaca jendela pintu ruang tunggu ini. Kaca hitam itu seakan adalah filter yang membuat mataku semakin tak sanggup menangkap warna warna indah kota yang sejuk ini, semua di luar jendela itu nampak semakin kelabu, sayu. 15 menit sudah aku tenggelam dalam suasana kosong itu, disebelahku duduk seorang gadis berambut ikal berkulit dengan sebuah koper beratnya. Aku sesekali menatap paras wajahnya, sempat kulihat ia menengok ke jam tangannya lalu pandanganya beralih ke jam dinding ruang tunggu, sepertinya ia mencocokkan waktu di jam tangannya dengan jam dinding di stasiun. Beberapa kali ia mengeluarkan HP nya, mengetik sms, menerima telepon, dan berbicara tentang keberangkatannya ke Jakarta. Ia sama sepertiku, sedang menunggu kedatangan kereta menuju Jakarta. Ia nampak cantik dengan baju coklat tipis yang ia kenakan, mungkin ia salah memprediksi suaca hari ini, aura panas matahari nampak tak muncul, hanya angin sepoi sepoi dan gumpalan awan yang menutup sempurna permukaan bumi sehingga langit tak tampak dari kota ini. Raut wajahnya juga tak jauh berbeda denganku, murung, layu kelabu, kereta menuju Jakarta ini nampaknya yang telah mengahapus segala warna warni kota ini.

Suara klakson kereta api berbunyi dengan kerasnya menarikku dari dimensi yang begitu jauhnya kembali lagi ke sebuah sudut ruangan ini. Sedari tadi aku menggenggam tangan gadis di sebelahku. Klakson kereta tadi seakan membangunkan kami berdua dari sebuah mimpi kelabu dan membawa kami ke sebuah realita yang mungkin akan terasa lebih kelabu. Gadis itu bangkit, menarik tanganku seakan mengajakku besertanya. Aku membereskan tas bawaanya, kemudian dia menarikku, memelukku dengan erat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya semenjak kemarin, semenjak dia, mungkin juga aku, sadar bahwa kita akan berada di tempat ini hari ini, tempat yang pasti akan kita datangi setiap enam bulan, dan setiap hari raya akan datang. Ia membisu, ia memandangku ragu, seakan tak kuasa merasakan ledakan dari dalam dirinya, begitu juga aku. Dan sepatah kata pertama, dan terahir di hari ini keluar dari bibir mungilnya “aku pulang dulu ya”, bibirku serasa terbius oleh kata kata itu, terpaku seperti bibir beton yang tak mungkin tergerak, entah dari bagian mana dari tubuhku keluar suara “iya” yang kurasa aku tak mengucapnya sama sekali, suara itu tiba tiba keluar entah darimana, seakan aku merelakanya. Aku menciumnya, dan ia berpaling menuju sebuah pintu bertuliskan “pintu masuk”. Dibalik pintu itu adalah dimensi lain, dimensi yang membawanya ke sebuah tempat lain yang tertulis di tiket keretanya, Jakarta. Dia pergi ke arah pintu itu, tanpa menoleh, dan aku melepasnya disini, dimensi abadi dan hampa bernama “Ruang Tunggu”.

Friday, February 5, 2010

angkot, dan seorang ayah

February 05, 2010 // by afurqannn // , , // No comments


Sekitar 7 tahun lalu, ketika aku masih duduk di bangku SMP, ketika aku masih menggunakan transportasi umum berwarna biru yang disebut angkot, ketika itu ongkos anak sekolah masih seharga 500 rupiah dan setiap sore sepulang sekolah aku selalu menunggu angkot di depan gang sekolahku. Aku melihat tampak seorang supir angkot separuh baya, kira kira berumur 40 tahun, dengan polo shirt nya yang warna putihnya sudah termakan debu karena sudah seharian dipakai bekerja, dan handuk kecil yang terkalung di lehernya. Para sopir angkot yang biasanya terburu buru mengambil penumpang untuk segera mendapat hasil “narik” harian mereka ini tampak gelisah mengamati gerombolan anak sekolah yang keluar dari gang, dia gelisah, mengamati tiap tiap gadis yang keluar dari gang itu dengan kernyit wajahnya yang berkeringat dan bau badan yang kecut dan tak sedap. Namun dia berusaha tampil rapi, sesekali dia membersihkan kotoran di wajah dan bajunya seolah olah dia menunggu seseorang keluar dari gang itu dan mengajaknya menaiki angkot yang tak begitu mewah. 

Aku berjalan masuk ke angkot itu sambil kutanya “gadang pak?” dan bapak itu menjawab “oh, iya mas.. monggo”. Aku duduk di belakang. Sopir itu Nampak sudah putus asa, dia kembali masuk ke bangku kekuasaanya. Bangku angkot itu telah hampir penuh, dan sesuai kebiasaan, jika bangku angkot sudah hampir penuh, si sopir harus segara berangkat atau para penumpang akan marah. Tiba tiba seorang ibu datang ingin menaiki angkot tersebut, yang tersisa adalah bangku depan. Si ibu bertanya pada pak sopir “gadang pak?” perhatianya pada gadis gadis SMP itu teralihkan dan dia menjawab “inggih bu, tapi sampun penuh, niki nunggu tiang” (iya bu, tapi sudah penuh ini saya sedang menunggu seseorang). Kusadari dia menyediakan bangku depan itu untuk seseorang, walaupun biasanya bangku depan itu bisa diisi oleh dua orang, namun dia tak mengijinkan seorangpun menempati bangku depan yang dianggap bangku istimewa karena tempat duduknya yang nyaman. Pak sopir itu hampir putus asa, dia sempat menundukkan kepalanya. Dia diam sejenak sampai seorang penumpang menegurnya “Pak, iki sido budal opo gak? Aku tak golek angkot liyo ae! Kesuwen!” katanya dengan nada tinggi, pak sopir kaget dan menjawabnya dengan halus “sepuntene pak nggih, kulo ngantosi tiang”. Lalu si penumpang itu meninggalkan angkot itu. Pak sopir semakin putus asa, sudah ada kira kira lima penumpang meninggalkan angkot itu, tinggal hanya 6 orang termasuk aku disana, karena aku tidak sedang keburu waktu, kuhabiskan saja waktuku di angkot itu, namun aku juga sedikit kesal karena angkot ini tak kunjung bergerak. Sempat kulihat paras si sopir, dia masih mengaharapkan kehadiran seseorang yang telah ia tunggu dari sejam yang lalu.

Aku, serta beberapa penumpang lainya Nampak sudah lelah karena menunggu, sampai akhirnya kulihat senyum merekah dari wajah gelisah itu. Si sopir turun dari bangkunya menyambut segerombolan gadis SMP yang berjalan keluar dari gang menyebarangi jalan. Pak sopir itu mendatangi salah satu gadis diantaranya dan memberikan senyum haru kepadanya. Pakaian gadis itu basah kuyup dan terdapat beberapa kotoran di rambutnya. Si sopir memberikan handuk yang ia kalungkan di lehernya kepada gadis itu untuk membersihkan kotoran di tubuhnya. Dia membukakan pintu bangku depan, bangku spesial dambaan para penumpang, pak sopir itu terlihat haru dan gembira sekali solah olah dia bertemu idola besar yang menjadi kebanggaannya. Dia mempersilahkan gadis itu duduk, lalu dia mengucapkan terimakasih pada teman teman gadis itu yang tadi berjalan bersamanya “terimakasih ya mbak,.. terimakasih sekali”. Dia lalu menjalankan angkotnya. Sempat aku bertanya tanya untuk apa si sopir berterimakasih pada anak anak SMP itu. 

Di perjalanan kutemukan jawabanya, dia mengajak ngobrol para penumpang yang sabar menunggunya, dia berkata “matur nuwun mas nggih, mbak, niki wau ngenteni anak kulo niki, sakniki ulang tahune” (terimakasih mas, mbak, ini tadi menunggu anak saya, hari ini dia ulang tahun". Oooo, ternyata gadis itu adalah anaknya, dan ternyata ia basah kuyup dan kotor karena dia mungkin disiram oleh teman temanya sebagai tanda perayaan ulang tahunya. Tak lama kemudian dia bercerita bahwa gadis itu adalah anak kandungnya yang sejak SD diadopsi oleh orang lain karena pak sopir tidak kuat membiayai sekolahnya, dia menyetir sambil bercerita dengan nada menyesal, sedih, dan rasa hampa seakan karena keterbatasanya yang mengakibatkan perpisahan dengan anak tercintanya, sempat kurasakan aroma kehampaan dalam nada ucapanya, seakan dia merasa tak mampu menyentuh bintang harapan satu-satunya yang paling dia cintai. Dia bercerita terus tentang masa lalunya dan ia sempatkan beberapa kali untuk membelai rambut anaknya, sambil memandang wajah malaikat kecil itu dengan penuh rasa sayang dan haru, kulihat matanya yang hampir meneteskan cairan luapan emosinya dan luapan kebahagiaanya. 

Pak sopir itu memberikan tumpangan gratis pada para penumpang, ia tak menerima ongkos dari para penumpang dan sekali lagi mengucap “terimakasih banyak” pada setiap penumpang yang turun. Kulihat ada secercah cahaya di bangku depan angkot tersebut, kuliat seakan akan ada pelangi indah di baris depan itu, pelangi yang ujungnya jatuh pada si bapak dan si anak, pelangi yang menghubungkan sebuah perasaan indah dari sang ayah ke anak tercinta yang tak mampu ia peluk tiap hari, rasa sayang seorang ayah yang harus terputus karena sebuah keterbatasan, rasa sayang seorang sopir yang kehilangan anaknya selama bertahun tahun, rasa sayang yang telah terpendam selama setahun dan baru dapat ia ungkapkan selama sehari ini, di hari ulang tahun anaknya.

Dan aku pun turun, tepat di depan rumah, pak sopir melemparkan senyum nya padaku dan sekali lagi berkata “terimakasih banyak ya mas” setelah kata itu berkali kali ia ucapkan pada penumpang yang lainya. Dan angkot itu pun pergi, membawa sesosok anak yang sedang merayakan ulang tahunnya, dan sesosok seorang ayah.



(sebuah refleksi)

Thursday, February 4, 2010

Stasiun Nganjuk

February 04, 2010 // by afurqannn // , , // No comments

Panasnya terik matahari hari ini, tampaknya sang matahari tak malu malu lagi menyombongkan aroma panas dari jarak berjuta juta kilometer jauhnya, tampaknya ia sudah bosan bersembunyi dari balik awan tebal yang telah menutupinya selama beberapa hari terakhir ini, dan tampaknya sang hujan pun telah kelelahan membasuh kulit bumi yang tak henti hentinya menjerit karena ulang dan tingkah manusia. tanah, kulit bumi yang telah lama dimanjakan oleh rindangnya pohon pohon kini telah berubah menjadi bongkahan batu batu cantik yang membentuk gedung dan rumah rumah, namun apakah bumi menyukai hal ini? Matahari semakin mantap saja menyombongkan aura panasnya, seakan akan ingin menyiksa bumi yang telah kehilangan perisainya, kehilangan kecantikannya, kehilangan hijaunya, dan tiba tiba “JEZZZZZZ, JEZZZZZZ, GRUDAK! GRUDAK GRUDAK!!!” onomatopoeia kereta eksekutif yang lewat di stasiun sederhana ini, Stasiun Nganjuk. Stasiun tua yang hanya dikunjungi oleh kereta kelas ekonomi, kawan seperjuangan si Stasiun. Dari kayu kayu penopang pilarnya sudah tampak tua dan keriput menggambarkan betapa stasiun ini tak banyak dimanja manja,  betapa stasiun yang dulu dibangun sekecil ini sekarang telah beranjak tua.
Salah satu tiang yang terpancang di stasiun ini terlihat berbeda dari yang lainnya. Seorang gadis berparas cantik duduk jongkok bersandar pada pilar yang renta ini. Wajahnya tampak gelisah dan murung, tak ada hentinya ia memandangi jam tangannya, jam tangan Alexandre Crhristie hadiah dari kekasihnya. disampingya ia meletakkan sebuah tas ransel yang berisi pakaian pakaianya, dan ditangannya ia menggenggam sepasang tiket kereta lawas yg ia simpan sejak tiga tahun lalu, tertanggal 23 Januari 2006. Tertulis di tiket itu “KA MATARMAJA tujuan JAKARTA TANPA TEMPAT DUDUK”. Ia tetap bersandar, dan untuk beberapa kali, angin sempat berhembus membelai rambutnya yang terkulai bebas di pundaknya, angin itu seakan akan ingin mengungkap dan membuka paras cantiknya yang tertutup oleh mahkota rambutnya. Sudah hampir sejam gadis itu berada disana, ia masih saja tak mau beranjak dari tempatnya walaupun sekarang matahari telah merangkak lebih tinggi dan membuat kaus tipisnya basah karena keringatnya yang diperas oleh panas matahari yang seolah ingin menyinarinya leebih dekat.

“JEZZZZZZ, JEZZZZZZ, GRUDAK! GRUDAK GRUDAK!!!” kereta pengangkut bahan bakar lewat menghampiri stasiun kecil ini, keduanya tampak saling sapa dalam bahasa yang tak dikenal, mungkin bahasa kereta api. Gadis itu pun tak tahu bahasa yang mereka gunakan, dia bahkan tak tau kalau kereta bahan bakar itu sedang menyapa stasiun tua ini. Gadis itu hanya terdiam, pikiranya melayang entah kemana, ia mengeluarkan handphone nya, sony ericsson tipe terbaru yang masih mulus terbalut sarung imut. Ia menengok sejenak kedalam HP itu, berusaha melihat sms yang masuk, namun HP itu tak sepintar penampilanya, HP canggih itu responnya sangat lambat sekali seperti HP yang terbelakang. Gadis itu tak sabar, ia menekan keypad HP itu dengan tak sabar berkali kali, namun tetap si cantik mungil itu tak merespon. Gadis yang dari tadi telah terbakar oleh sinar matahari itu membantingnya “Dasar HP Sialan!!!”,.. lalu “CRAKKK!!” hp itu terbanting diatas lantai kasar stasiun,  terpecah menjadi tiga bagian, tergeletak lemas di tanah. Gadis itu diam untuk beberapa saat, ia memandangi HP yang telah dibantingya, ia memandangi HP cantik pemberian kekasihnya ygn sekarang sudah terpecah belah. Gadis itu melihatnya dengan rasa sesal, dan ia memungutnya kembali, memasangnya dan menghidupkannya.

Nampak foto seorang pria bersamanya di wallpaper HP itu, gadis itu diam, memandangi wajah lelaki yang ada di HP nya, baru beberapa detik ia memandangi sesosok pria muda itu, setetes air mata merangkak dari kelopak matanya, melewati lekung matanya, lalu pergi ke lereng hidungnya, membasuh pipinya dan menyatu dengan keringat yang ada di dagunya, bersamaan dengan itu butir butir air mata lain menyusul dengan derasnya. Ia membersihkan HP pemberian kekasihnya itu dengan kaosnya, mengelapnya baik baik dan memperlakukan benda kecil itu seakan akan sebuah pusaka  abadinya. Gadis itu masih hanyut dalam kesenduanya semakin laru dan semakin dalam,

“JEZZZZZZ, JEZZZZZZ, GRUDAK! GRUDAK GRUDAK!!!”

Jam dinding stasiun menunjukkan waktu telah berjalan begitu cepat menuju pukul 5 sore, ketika matahari sudah menjadi lebih ramah kepada bumi bagian sekitar Indonesia, ia telah meredupkan cahanyanya tanda ia mengijinkan manusia manusia pekerja untuk pulang kembali kerumah, ke pelukan sanak keluarganya. Namun tidak untuk Gadis ini, ia masih setia menunggu hadirnya seseorang di salah satu tiang di stasiun tua ini, masih saja berharap. Ia tak pernah sedikitpun lagi melirik jam stasiun atau jam tangan nya, seakan akan ia telah ingat bagaimana jarum jam berdetak di saat saat seperti ini, gadis itu memandang ke depan tanpa ragu sedikitpun, ia tak berkedip sama sekali walaupun angin telah meniupkan dirinya, ia tetap menatap kedepan, dengan pandangan kosong namun ia berhenti pada suatu titik, pada suatu dimensi, dimensi waktu dimana ia kembali ke masa itu, di tempat yang sama, di stasiun ini. Ia memejamkan matanya, hatinya menghitung mundur detak jam yang sedang menuju ke angka 12 untuk menyempurnakan waktu pukul 5 sore, ketika jam ini berdentang dengan kerasnya. Sebuah rasa yang meluap dari tubuhnya membuat tubuh gadis ini mengembang seakan akan ia akan berubah menjadi sebuah monster. Nafasnya begitu cepat layaknya sebuah lokomotif yang sedang melaju begitu cepat, ia mengunci matanya, seakan ia tak kuat melihat apa yang akan terjadi di pukul 5 sore sebentar lagi, nafasnya semakin cepat semakin cepat seperti pompa compressor, begitu cepat begitu cepat, wajah gadis ini memerah, telah sampai ia apada puncak perasaannya, perasaaan marah dan juga sesal yang telah terpendam selama 3 tahun ini.

 “JEZZZZZZ, JEZZZZZZ, GRUDAK! GRUDAK GRUDAK!!!”
dan gadis itu berteriak bersamaan dengan lewatnya kereta eksekutif di stasiun itu “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRHHHHHHHHHGGGGG!!!!!!!!!!!”
teriakanya mengiringi laju kereta itu, ia berteriak dengan histeris sampai kereta itu tak lewat lagi di stasiun ini. 
Kereta eksekutif itu telah beranjak jauh dari stasiun itu, ia nampak sudah tak terlihat lagi, hilang ditelan oleh tikungan dan pohon pohon di sekitar sawah. Gadis itupun beranjak, ia berdiri, mengelap air matanya, ia keluarkan setangkai bunga Lily, bungan kesayangan pria di wallpaper HPnya. Ia meletakkan bunga Lily itu diatas selembar koran yang ia simpan selama ini. dan Gadis itupun pergi, mengelap air mata yang telah tercucur deras di pipinya, ia mengeluarkan selembar tissue dan kemudian pergi entah kemana.
Gadis itu tak ada lagi di pilar terakhir itu, Stasiun tua ini pun kehilangan keindahanya, stasiun ini seakan akan kembali menjadi stasiun tua yang telah lama tak terawat. Bunga lily yang ditinggalkannya tertiup angin dan bergulir jatuh ke lintasan rel kereta, sudah pasti bunga itu akan hancur terlindas oleh kereta yang lewat. Dan koran yang ia letakkan sebagai alas bunga itu tetap tergeletak disana, hingga ia tertiup oleh angin yang lebih kencang sehingga ia terhambur hamburkan melayang layang sesuai angin yang membawanya. Diantara tulisan yang ramai dan berdesak desakan di koran itu, tertulis di sekitar pojok kanan bawah koran yang tertanggal 24Januari 2006 itu “Seorang pria tewas ditabrak kereta api eksekutif di Stasiun Nganjuk pada pukul 5 sore…..”
(sebuah imaji)

kereta ke Surabaya

February 04, 2010 // by afurqannn // , , , // No comments

Jarang sekali kuhirup udara pagi sesejuk ini. Ya, sudah lama aku melewatkan pagiku dalam belaian mimpi dan tak kusadari betapa Tuhan menciptakan pagi yang seindah ini, seindah embun yang menempel pada dedaunan yang membuatnya seperti besi cermin cermin kecil yang memantulkan cahaya emas matahari di pagi hari, cahaya yang menandakan awal dimulainya pagi ini, cahaya hasil dari sinar yang tersaring oleh filter-filter awan dan paduan refleksi dari bara api bintang besar sumber kehidupan dan juga hasil gradient yang tercipta dari pantulan sinar yang menerpa awan kelabu pagi ini. Betapa aku telah melewatkan sejuta keindahan di pagi-pagi sebelumnya yang telah kulewati. Betapa aku telah melewatkan tampilan yang lebih menarik daripada best picture film film dari Hollywood. Keindahan itu tampak nyata seperti gambar 3 dimensi yang terpampang jelas di mataku. Tekstur gunung-gunung terlihat jelas seakan akan aku melihat orang beraktifitas disana. Rasanya kata “indah” tak cukup untuk melukiskan betapa agungnya karya desainer alam semesta Itu. Kulanjutkan perjalananku sambil menghirup nafas dalam dalam dan melihat Arjuna bersanding di samping Anjasmara.
Kereta itu menuju ke Surabaya, aku menyebutnya kereta ekonomi, dimana banyak faktor ekonomi sangat berhubungan erat dengan kereta ini. Mungkin yang pertama, karena tiket kereta yang hanya seharga nasi sebungkus, dan juga harga nasi sebungkus di kereta ini yang harganya cuma separuh dari harga nasi biasa. Bolehlah aku menyebutnya “pasar gerbong” karena aktifitas menyambung hidup dengan segala cara dagang banyak terjadi di tujuh gerbong yang diseret oleh masinis dengan mesin perkasanya di depan. Segala macam perdagangan barang ataupun jasa tentunya dengan dunia yang lebih keras ada disini. Buku SD, buku cerita wali songo, buku gambar dan mewarnai, segala macam makanan yang entah tahun berapa dirilis, mainan anak anak, peralatan rumah tangga, dan juga para penjuat jasa seperti pengamen dan penyapu gerbong pun tak ketinggalan disini. Dia, mereka, sekelompok musisi yang sempat mampir ke gerbong ini, bolehlah kusebut dia dengan istilah “musisi” dan “berbakat”. Kusebut mereka “musisi” karena memang mereka adalah pelantun lagu khusus di gerbong kereta,dan kusebut mereka “berbakat” karena memang bakat mereka melantunkan lagu sehingga tak seorangpun melewatkan atau tak mendengarkan lagu itu, haha ya, rahasia utamanya adalah sebuah bas cetol berukuran raksasa dan ketipung dangdut yang menghentakkan nada nada seakan akan palu besar memukul keras dada. Setiap jentikan jari dari si musisi akan membuat orang yang tertidur pulas terbangun seketika dan suara parau yang melantunkan lagu yang kira kira judulnya “maafkan” itu terdengar keras dan sedikit fals “maafkan dakuuu,….” Aku tak tahu apa isi lirik lagu ini, apakah mereka meninta maaf karena telah menghentakkan palu besar tepat di dada para peunmpang atau mungkin itu hanyalah sebuah lagu. Gitar akustik yang tampak tua dipetik dengan sekuat tenaga agar setelan gitar yang fals itu cukup nyaring terdengar untuk memanggil para penumpang dari alam mimpinya. Tampak beberapa baris gitar terlihat keropos dan hampir hancur karena si gitaris menggunakan kunci gitar yang monoton dan itu itu saja sehingga baris depan gitar keropos, aku yakin dia banyak menggunakan kunci C, kunci andalan lagu dangdut. Satu lagu mereka bawakan dan untuk santapan akhir adalah bungkus permen bekas yang dibalik sehingga bagian dalam bungkus berada di luar dan memberikan warna almunium itu mereka goyang goyangkan di setiap bilik bangku dan mengeluarkan bunyi “kricik kricik” bunyi yangbersifat pragmatis yang mengajak para penumpang untuk sama sama mengisi bungkus permen yang kemudian akan mereka bawa pergi, tak ada duit rokok pun jadi. Mereka pergi meninggalkan kenangan hebat di telinga para penumpang, lagu yang mereka bawakan barusaja memberikan secangkir obat anti tidur dan obat anti penat, dan hasilnya, 90 kilometer kutempuh tanpa tidur.
Keluar dari stasiun terahir kota Surabaya, aku disambut oleh sekelompok musisi ber genre lain. Tampak bapak napak yang lebih senior menampilkan kehebatan mereka dalam bermusik menggunakan peralatan band yang kukira tak sebanding dengan keahlian mereka. Drum set berumur jutaan tahun dan juga gitar listrik yang tampak renta dan jelek karena sering diservis dan dipaksakan dan juga saxophone yang warna kilapnya tak lagi terlihat, mendampingi mereka dalam sebuah lagu klasik yang menyapa para penumpang seakan akan mengucapkan “selamat datang” di Surabaya. Kalau boleh aku mau menyebut mereka “senior band”, atau “lansia band”, atau juga “jompo band” jika melihat personilnya secara fisik, namun ketika mendengarkan alunan lagu yang mereka bawakan dengan merdu dan syahdu dengan kombinasi ketukan drum yang slow namun sempat membawa diriku melayang dan juga petikan gitar yang sempat membuat mataku terpejam sekaligus alunan halus dari saxophone butut yang bisa menyeretku kembali ke masa masa tahun 80an, bolehlah kusebut mereka “Bon Jovi Surabaya” yang terdampar di sebuah sudut kecil di stasiun Surabaya ini. Hidup mereka ditentukan oleh sebuah kotak kaleng berlapiskan kain hijau yang menjadi media tempat penyaluran rasa simpati atau rasa kagum orang orang kepada music yang mereka bawakan.
Aku berjalan, menjauhi mereka, menuju kereta, kembali ke Malang, selamat tinggal Bon Jovi Surabaya, maaf, aku lupa memberikan uang dua ribu rupiah yang ada disakuku, mungkin lain kali. Aku pasti datang lagi.
(sebuah refleksi)