Monday, February 15, 2010

Ruang Tunggu


Cuaca di musim terik hari ini tak seperti biasanya, awan tampak menumpuk tebal di atas langit, dan semua warna warna dedaunan hijau, pohon, jalan raya, tembok, lampu merah, tampak sayu, seperti warna aura wajahku yang tenggelam dalam ikut tenggelam dalam cuaca hari ini. Sungguh ironis, walau matahari kali ini enggan mewarnai aspal di jalan raya, hari ini terasa bumi tertumpuk oleh warna kelabu, jalan raya dan pepohonan yang menghiasinya seakan akan murung bersedih. Hari ini aku serasa memakai kacamata berwarna abu abu, atau kota Malang yang indah ini hanya terlihat berwarna hitam putih, suram!, retina matakau hanya menangkap dua warna itu, seakan hari ini mataku telah diatur dengan mode grayscale, telingaku seakan tak mampu mendengar suara mesin mesin kendaraan, suara klakson yang berdering keras disekitarku, hanya terdengar di telingaku, sepintas suara hiruk pikuk manusia yang tergesa gesa karena ruanya hujan akan segera menyapa, membasahi kulit bumi yang telah lama dijemur, kering kerontang. namun kurasa, hujan ini tak datang untuk membasuh, mungkin langit sedang menangis. Dan aku hanya duduk disini, di salah satu bangku tunggu di Stasiun Kotabaru.

Aku memandang keluar, melewati sebuah kaca jendela pintu ruang tunggu ini. Kaca hitam itu seakan adalah filter yang membuat mataku semakin tak sanggup menangkap warna warna indah kota yang sejuk ini, semua di luar jendela itu nampak semakin kelabu, sayu. 15 menit sudah aku tenggelam dalam suasana kosong itu, disebelahku duduk seorang gadis berambut ikal berkulit dengan sebuah koper beratnya. Aku sesekali menatap paras wajahnya, sempat kulihat ia menengok ke jam tangannya lalu pandanganya beralih ke jam dinding ruang tunggu, sepertinya ia mencocokkan waktu di jam tangannya dengan jam dinding di stasiun. Beberapa kali ia mengeluarkan HP nya, mengetik sms, menerima telepon, dan berbicara tentang keberangkatannya ke Jakarta. Ia sama sepertiku, sedang menunggu kedatangan kereta menuju Jakarta. Ia nampak cantik dengan baju coklat tipis yang ia kenakan, mungkin ia salah memprediksi suaca hari ini, aura panas matahari nampak tak muncul, hanya angin sepoi sepoi dan gumpalan awan yang menutup sempurna permukaan bumi sehingga langit tak tampak dari kota ini. Raut wajahnya juga tak jauh berbeda denganku, murung, layu kelabu, kereta menuju Jakarta ini nampaknya yang telah mengahapus segala warna warni kota ini.

Suara klakson kereta api berbunyi dengan kerasnya menarikku dari dimensi yang begitu jauhnya kembali lagi ke sebuah sudut ruangan ini. Sedari tadi aku menggenggam tangan gadis di sebelahku. Klakson kereta tadi seakan membangunkan kami berdua dari sebuah mimpi kelabu dan membawa kami ke sebuah realita yang mungkin akan terasa lebih kelabu. Gadis itu bangkit, menarik tanganku seakan mengajakku besertanya. Aku membereskan tas bawaanya, kemudian dia menarikku, memelukku dengan erat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya semenjak kemarin, semenjak dia, mungkin juga aku, sadar bahwa kita akan berada di tempat ini hari ini, tempat yang pasti akan kita datangi setiap enam bulan, dan setiap hari raya akan datang. Ia membisu, ia memandangku ragu, seakan tak kuasa merasakan ledakan dari dalam dirinya, begitu juga aku. Dan sepatah kata pertama, dan terahir di hari ini keluar dari bibir mungilnya “aku pulang dulu ya”, bibirku serasa terbius oleh kata kata itu, terpaku seperti bibir beton yang tak mungkin tergerak, entah dari bagian mana dari tubuhku keluar suara “iya” yang kurasa aku tak mengucapnya sama sekali, suara itu tiba tiba keluar entah darimana, seakan aku merelakanya. Aku menciumnya, dan ia berpaling menuju sebuah pintu bertuliskan “pintu masuk”. Dibalik pintu itu adalah dimensi lain, dimensi yang membawanya ke sebuah tempat lain yang tertulis di tiket keretanya, Jakarta. Dia pergi ke arah pintu itu, tanpa menoleh, dan aku melepasnya disini, dimensi abadi dan hampa bernama “Ruang Tunggu”.

Friday, February 5, 2010

angkot, dan seorang ayah


Sekitar 7 tahun lalu, ketika aku masih duduk di bangku SMP, ketika aku masih menggunakan transportasi umum berwarna biru yang disebut angkot, ketika itu ongkos anak sekolah masih seharga 500 rupiah dan setiap sore sepulang sekolah aku selalu menunggu angkot di depan gang sekolahku. Aku melihat tampak seorang supir angkot separuh baya, kira kira berumur 40 tahun, dengan polo shirt nya yang warna putihnya sudah termakan debu karena sudah seharian dipakai bekerja, dan handuk kecil yang terkalung di lehernya. Para sopir angkot yang biasanya terburu buru mengambil penumpang untuk segera mendapat hasil “narik” harian mereka ini tampak gelisah mengamati gerombolan anak sekolah yang keluar dari gang, dia gelisah, mengamati tiap tiap gadis yang keluar dari gang itu dengan kernyit wajahnya yang berkeringat dan bau badan yang kecut dan tak sedap. Namun dia berusaha tampil rapi, sesekali dia membersihkan kotoran di wajah dan bajunya seolah olah dia menunggu seseorang keluar dari gang itu dan mengajaknya menaiki angkot yang tak begitu mewah. 

Aku berjalan masuk ke angkot itu sambil kutanya “gadang pak?” dan bapak itu menjawab “oh, iya mas.. monggo”. Aku duduk di belakang. Sopir itu Nampak sudah putus asa, dia kembali masuk ke bangku kekuasaanya. Bangku angkot itu telah hampir penuh, dan sesuai kebiasaan, jika bangku angkot sudah hampir penuh, si sopir harus segara berangkat atau para penumpang akan marah. Tiba tiba seorang ibu datang ingin menaiki angkot tersebut, yang tersisa adalah bangku depan. Si ibu bertanya pada pak sopir “gadang pak?” perhatianya pada gadis gadis SMP itu teralihkan dan dia menjawab “inggih bu, tapi sampun penuh, niki nunggu tiang” (iya bu, tapi sudah penuh ini saya sedang menunggu seseorang). Kusadari dia menyediakan bangku depan itu untuk seseorang, walaupun biasanya bangku depan itu bisa diisi oleh dua orang, namun dia tak mengijinkan seorangpun menempati bangku depan yang dianggap bangku istimewa karena tempat duduknya yang nyaman. Pak sopir itu hampir putus asa, dia sempat menundukkan kepalanya. Dia diam sejenak sampai seorang penumpang menegurnya “Pak, iki sido budal opo gak? Aku tak golek angkot liyo ae! Kesuwen!” katanya dengan nada tinggi, pak sopir kaget dan menjawabnya dengan halus “sepuntene pak nggih, kulo ngantosi tiang”. Lalu si penumpang itu meninggalkan angkot itu. Pak sopir semakin putus asa, sudah ada kira kira lima penumpang meninggalkan angkot itu, tinggal hanya 6 orang termasuk aku disana, karena aku tidak sedang keburu waktu, kuhabiskan saja waktuku di angkot itu, namun aku juga sedikit kesal karena angkot ini tak kunjung bergerak. Sempat kulihat paras si sopir, dia masih mengaharapkan kehadiran seseorang yang telah ia tunggu dari sejam yang lalu.

Aku, serta beberapa penumpang lainya Nampak sudah lelah karena menunggu, sampai akhirnya kulihat senyum merekah dari wajah gelisah itu. Si sopir turun dari bangkunya menyambut segerombolan gadis SMP yang berjalan keluar dari gang menyebarangi jalan. Pak sopir itu mendatangi salah satu gadis diantaranya dan memberikan senyum haru kepadanya. Pakaian gadis itu basah kuyup dan terdapat beberapa kotoran di rambutnya. Si sopir memberikan handuk yang ia kalungkan di lehernya kepada gadis itu untuk membersihkan kotoran di tubuhnya. Dia membukakan pintu bangku depan, bangku spesial dambaan para penumpang, pak sopir itu terlihat haru dan gembira sekali solah olah dia bertemu idola besar yang menjadi kebanggaannya. Dia mempersilahkan gadis itu duduk, lalu dia mengucapkan terimakasih pada teman teman gadis itu yang tadi berjalan bersamanya “terimakasih ya mbak,.. terimakasih sekali”. Dia lalu menjalankan angkotnya. Sempat aku bertanya tanya untuk apa si sopir berterimakasih pada anak anak SMP itu. 

Di perjalanan kutemukan jawabanya, dia mengajak ngobrol para penumpang yang sabar menunggunya, dia berkata “matur nuwun mas nggih, mbak, niki wau ngenteni anak kulo niki, sakniki ulang tahune” (terimakasih mas, mbak, ini tadi menunggu anak saya, hari ini dia ulang tahun". Oooo, ternyata gadis itu adalah anaknya, dan ternyata ia basah kuyup dan kotor karena dia mungkin disiram oleh teman temanya sebagai tanda perayaan ulang tahunya. Tak lama kemudian dia bercerita bahwa gadis itu adalah anak kandungnya yang sejak SD diadopsi oleh orang lain karena pak sopir tidak kuat membiayai sekolahnya, dia menyetir sambil bercerita dengan nada menyesal, sedih, dan rasa hampa seakan karena keterbatasanya yang mengakibatkan perpisahan dengan anak tercintanya, sempat kurasakan aroma kehampaan dalam nada ucapanya, seakan dia merasa tak mampu menyentuh bintang harapan satu-satunya yang paling dia cintai. Dia bercerita terus tentang masa lalunya dan ia sempatkan beberapa kali untuk membelai rambut anaknya, sambil memandang wajah malaikat kecil itu dengan penuh rasa sayang dan haru, kulihat matanya yang hampir meneteskan cairan luapan emosinya dan luapan kebahagiaanya. 

Pak sopir itu memberikan tumpangan gratis pada para penumpang, ia tak menerima ongkos dari para penumpang dan sekali lagi mengucap “terimakasih banyak” pada setiap penumpang yang turun. Kulihat ada secercah cahaya di bangku depan angkot tersebut, kuliat seakan akan ada pelangi indah di baris depan itu, pelangi yang ujungnya jatuh pada si bapak dan si anak, pelangi yang menghubungkan sebuah perasaan indah dari sang ayah ke anak tercinta yang tak mampu ia peluk tiap hari, rasa sayang seorang ayah yang harus terputus karena sebuah keterbatasan, rasa sayang seorang sopir yang kehilangan anaknya selama bertahun tahun, rasa sayang yang telah terpendam selama setahun dan baru dapat ia ungkapkan selama sehari ini, di hari ulang tahun anaknya.

Dan aku pun turun, tepat di depan rumah, pak sopir melemparkan senyum nya padaku dan sekali lagi berkata “terimakasih banyak ya mas” setelah kata itu berkali kali ia ucapkan pada penumpang yang lainya. Dan angkot itu pun pergi, membawa sesosok anak yang sedang merayakan ulang tahunnya, dan sesosok seorang ayah.



(sebuah refleksi)

Thursday, February 4, 2010

Stasiun Nganjuk

Panasnya terik matahari hari ini, tampaknya sang matahari tak malu malu lagi menyombongkan aroma panas dari jarak berjuta juta kilometer jauhnya, tampaknya ia sudah bosan bersembunyi dari balik awan tebal yang telah menutupinya selama beberapa hari terakhir ini, dan tampaknya sang hujan pun telah kelelahan membasuh kulit bumi yang tak henti hentinya menjerit karena ulang dan tingkah manusia. tanah, kulit bumi yang telah lama dimanjakan oleh rindangnya pohon pohon kini telah berubah menjadi bongkahan batu batu cantik yang membentuk gedung dan rumah rumah, namun apakah bumi menyukai hal ini? Matahari semakin mantap saja menyombongkan aura panasnya, seakan akan ingin menyiksa bumi yang telah kehilangan perisainya, kehilangan kecantikannya, kehilangan hijaunya, dan tiba tiba “JEZZZZZZ, JEZZZZZZ, GRUDAK! GRUDAK GRUDAK!!!” onomatopoeia kereta eksekutif yang lewat di stasiun sederhana ini, Stasiun Nganjuk. Stasiun tua yang hanya dikunjungi oleh kereta kelas ekonomi, kawan seperjuangan si Stasiun. Dari kayu kayu penopang pilarnya sudah tampak tua dan keriput menggambarkan betapa stasiun ini tak banyak dimanja manja,  betapa stasiun yang dulu dibangun sekecil ini sekarang telah beranjak tua.
Salah satu tiang yang terpancang di stasiun ini terlihat berbeda dari yang lainnya. Seorang gadis berparas cantik duduk jongkok bersandar pada pilar yang renta ini. Wajahnya tampak gelisah dan murung, tak ada hentinya ia memandangi jam tangannya, jam tangan Alexandre Crhristie hadiah dari kekasihnya. disampingya ia meletakkan sebuah tas ransel yang berisi pakaian pakaianya, dan ditangannya ia menggenggam sepasang tiket kereta lawas yg ia simpan sejak tiga tahun lalu, tertanggal 23 Januari 2006. Tertulis di tiket itu “KA MATARMAJA tujuan JAKARTA TANPA TEMPAT DUDUK”. Ia tetap bersandar, dan untuk beberapa kali, angin sempat berhembus membelai rambutnya yang terkulai bebas di pundaknya, angin itu seakan akan ingin mengungkap dan membuka paras cantiknya yang tertutup oleh mahkota rambutnya. Sudah hampir sejam gadis itu berada disana, ia masih saja tak mau beranjak dari tempatnya walaupun sekarang matahari telah merangkak lebih tinggi dan membuat kaus tipisnya basah karena keringatnya yang diperas oleh panas matahari yang seolah ingin menyinarinya leebih dekat.

“JEZZZZZZ, JEZZZZZZ, GRUDAK! GRUDAK GRUDAK!!!” kereta pengangkut bahan bakar lewat menghampiri stasiun kecil ini, keduanya tampak saling sapa dalam bahasa yang tak dikenal, mungkin bahasa kereta api. Gadis itu pun tak tahu bahasa yang mereka gunakan, dia bahkan tak tau kalau kereta bahan bakar itu sedang menyapa stasiun tua ini. Gadis itu hanya terdiam, pikiranya melayang entah kemana, ia mengeluarkan handphone nya, sony ericsson tipe terbaru yang masih mulus terbalut sarung imut. Ia menengok sejenak kedalam HP itu, berusaha melihat sms yang masuk, namun HP itu tak sepintar penampilanya, HP canggih itu responnya sangat lambat sekali seperti HP yang terbelakang. Gadis itu tak sabar, ia menekan keypad HP itu dengan tak sabar berkali kali, namun tetap si cantik mungil itu tak merespon. Gadis yang dari tadi telah terbakar oleh sinar matahari itu membantingnya “Dasar HP Sialan!!!”,.. lalu “CRAKKK!!” hp itu terbanting diatas lantai kasar stasiun,  terpecah menjadi tiga bagian, tergeletak lemas di tanah. Gadis itu diam untuk beberapa saat, ia memandangi HP yang telah dibantingya, ia memandangi HP cantik pemberian kekasihnya ygn sekarang sudah terpecah belah. Gadis itu melihatnya dengan rasa sesal, dan ia memungutnya kembali, memasangnya dan menghidupkannya.

Nampak foto seorang pria bersamanya di wallpaper HP itu, gadis itu diam, memandangi wajah lelaki yang ada di HP nya, baru beberapa detik ia memandangi sesosok pria muda itu, setetes air mata merangkak dari kelopak matanya, melewati lekung matanya, lalu pergi ke lereng hidungnya, membasuh pipinya dan menyatu dengan keringat yang ada di dagunya, bersamaan dengan itu butir butir air mata lain menyusul dengan derasnya. Ia membersihkan HP pemberian kekasihnya itu dengan kaosnya, mengelapnya baik baik dan memperlakukan benda kecil itu seakan akan sebuah pusaka  abadinya. Gadis itu masih hanyut dalam kesenduanya semakin laru dan semakin dalam,

“JEZZZZZZ, JEZZZZZZ, GRUDAK! GRUDAK GRUDAK!!!”

Jam dinding stasiun menunjukkan waktu telah berjalan begitu cepat menuju pukul 5 sore, ketika matahari sudah menjadi lebih ramah kepada bumi bagian sekitar Indonesia, ia telah meredupkan cahanyanya tanda ia mengijinkan manusia manusia pekerja untuk pulang kembali kerumah, ke pelukan sanak keluarganya. Namun tidak untuk Gadis ini, ia masih setia menunggu hadirnya seseorang di salah satu tiang di stasiun tua ini, masih saja berharap. Ia tak pernah sedikitpun lagi melirik jam stasiun atau jam tangan nya, seakan akan ia telah ingat bagaimana jarum jam berdetak di saat saat seperti ini, gadis itu memandang ke depan tanpa ragu sedikitpun, ia tak berkedip sama sekali walaupun angin telah meniupkan dirinya, ia tetap menatap kedepan, dengan pandangan kosong namun ia berhenti pada suatu titik, pada suatu dimensi, dimensi waktu dimana ia kembali ke masa itu, di tempat yang sama, di stasiun ini. Ia memejamkan matanya, hatinya menghitung mundur detak jam yang sedang menuju ke angka 12 untuk menyempurnakan waktu pukul 5 sore, ketika jam ini berdentang dengan kerasnya. Sebuah rasa yang meluap dari tubuhnya membuat tubuh gadis ini mengembang seakan akan ia akan berubah menjadi sebuah monster. Nafasnya begitu cepat layaknya sebuah lokomotif yang sedang melaju begitu cepat, ia mengunci matanya, seakan ia tak kuat melihat apa yang akan terjadi di pukul 5 sore sebentar lagi, nafasnya semakin cepat semakin cepat seperti pompa compressor, begitu cepat begitu cepat, wajah gadis ini memerah, telah sampai ia apada puncak perasaannya, perasaaan marah dan juga sesal yang telah terpendam selama 3 tahun ini.

 “JEZZZZZZ, JEZZZZZZ, GRUDAK! GRUDAK GRUDAK!!!”
dan gadis itu berteriak bersamaan dengan lewatnya kereta eksekutif di stasiun itu “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRHHHHHHHHHGGGGG!!!!!!!!!!!”
teriakanya mengiringi laju kereta itu, ia berteriak dengan histeris sampai kereta itu tak lewat lagi di stasiun ini. 
Kereta eksekutif itu telah beranjak jauh dari stasiun itu, ia nampak sudah tak terlihat lagi, hilang ditelan oleh tikungan dan pohon pohon di sekitar sawah. Gadis itupun beranjak, ia berdiri, mengelap air matanya, ia keluarkan setangkai bunga Lily, bungan kesayangan pria di wallpaper HPnya. Ia meletakkan bunga Lily itu diatas selembar koran yang ia simpan selama ini. dan Gadis itupun pergi, mengelap air mata yang telah tercucur deras di pipinya, ia mengeluarkan selembar tissue dan kemudian pergi entah kemana.
Gadis itu tak ada lagi di pilar terakhir itu, Stasiun tua ini pun kehilangan keindahanya, stasiun ini seakan akan kembali menjadi stasiun tua yang telah lama tak terawat. Bunga lily yang ditinggalkannya tertiup angin dan bergulir jatuh ke lintasan rel kereta, sudah pasti bunga itu akan hancur terlindas oleh kereta yang lewat. Dan koran yang ia letakkan sebagai alas bunga itu tetap tergeletak disana, hingga ia tertiup oleh angin yang lebih kencang sehingga ia terhambur hamburkan melayang layang sesuai angin yang membawanya. Diantara tulisan yang ramai dan berdesak desakan di koran itu, tertulis di sekitar pojok kanan bawah koran yang tertanggal 24Januari 2006 itu “Seorang pria tewas ditabrak kereta api eksekutif di Stasiun Nganjuk pada pukul 5 sore…..”
(sebuah imaji)

kereta ke Surabaya

Jarang sekali kuhirup udara pagi sesejuk ini. Ya, sudah lama aku melewatkan pagiku dalam belaian mimpi dan tak kusadari betapa Tuhan menciptakan pagi yang seindah ini, seindah embun yang menempel pada dedaunan yang membuatnya seperti besi cermin cermin kecil yang memantulkan cahaya emas matahari di pagi hari, cahaya yang menandakan awal dimulainya pagi ini, cahaya hasil dari sinar yang tersaring oleh filter-filter awan dan paduan refleksi dari bara api bintang besar sumber kehidupan dan juga hasil gradient yang tercipta dari pantulan sinar yang menerpa awan kelabu pagi ini. Betapa aku telah melewatkan sejuta keindahan di pagi-pagi sebelumnya yang telah kulewati. Betapa aku telah melewatkan tampilan yang lebih menarik daripada best picture film film dari Hollywood. Keindahan itu tampak nyata seperti gambar 3 dimensi yang terpampang jelas di mataku. Tekstur gunung-gunung terlihat jelas seakan akan aku melihat orang beraktifitas disana. Rasanya kata “indah” tak cukup untuk melukiskan betapa agungnya karya desainer alam semesta Itu. Kulanjutkan perjalananku sambil menghirup nafas dalam dalam dan melihat Arjuna bersanding di samping Anjasmara.
Kereta itu menuju ke Surabaya, aku menyebutnya kereta ekonomi, dimana banyak faktor ekonomi sangat berhubungan erat dengan kereta ini. Mungkin yang pertama, karena tiket kereta yang hanya seharga nasi sebungkus, dan juga harga nasi sebungkus di kereta ini yang harganya cuma separuh dari harga nasi biasa. Bolehlah aku menyebutnya “pasar gerbong” karena aktifitas menyambung hidup dengan segala cara dagang banyak terjadi di tujuh gerbong yang diseret oleh masinis dengan mesin perkasanya di depan. Segala macam perdagangan barang ataupun jasa tentunya dengan dunia yang lebih keras ada disini. Buku SD, buku cerita wali songo, buku gambar dan mewarnai, segala macam makanan yang entah tahun berapa dirilis, mainan anak anak, peralatan rumah tangga, dan juga para penjuat jasa seperti pengamen dan penyapu gerbong pun tak ketinggalan disini. Dia, mereka, sekelompok musisi yang sempat mampir ke gerbong ini, bolehlah kusebut dia dengan istilah “musisi” dan “berbakat”. Kusebut mereka “musisi” karena memang mereka adalah pelantun lagu khusus di gerbong kereta,dan kusebut mereka “berbakat” karena memang bakat mereka melantunkan lagu sehingga tak seorangpun melewatkan atau tak mendengarkan lagu itu, haha ya, rahasia utamanya adalah sebuah bas cetol berukuran raksasa dan ketipung dangdut yang menghentakkan nada nada seakan akan palu besar memukul keras dada. Setiap jentikan jari dari si musisi akan membuat orang yang tertidur pulas terbangun seketika dan suara parau yang melantunkan lagu yang kira kira judulnya “maafkan” itu terdengar keras dan sedikit fals “maafkan dakuuu,….” Aku tak tahu apa isi lirik lagu ini, apakah mereka meninta maaf karena telah menghentakkan palu besar tepat di dada para peunmpang atau mungkin itu hanyalah sebuah lagu. Gitar akustik yang tampak tua dipetik dengan sekuat tenaga agar setelan gitar yang fals itu cukup nyaring terdengar untuk memanggil para penumpang dari alam mimpinya. Tampak beberapa baris gitar terlihat keropos dan hampir hancur karena si gitaris menggunakan kunci gitar yang monoton dan itu itu saja sehingga baris depan gitar keropos, aku yakin dia banyak menggunakan kunci C, kunci andalan lagu dangdut. Satu lagu mereka bawakan dan untuk santapan akhir adalah bungkus permen bekas yang dibalik sehingga bagian dalam bungkus berada di luar dan memberikan warna almunium itu mereka goyang goyangkan di setiap bilik bangku dan mengeluarkan bunyi “kricik kricik” bunyi yangbersifat pragmatis yang mengajak para penumpang untuk sama sama mengisi bungkus permen yang kemudian akan mereka bawa pergi, tak ada duit rokok pun jadi. Mereka pergi meninggalkan kenangan hebat di telinga para penumpang, lagu yang mereka bawakan barusaja memberikan secangkir obat anti tidur dan obat anti penat, dan hasilnya, 90 kilometer kutempuh tanpa tidur.
Keluar dari stasiun terahir kota Surabaya, aku disambut oleh sekelompok musisi ber genre lain. Tampak bapak napak yang lebih senior menampilkan kehebatan mereka dalam bermusik menggunakan peralatan band yang kukira tak sebanding dengan keahlian mereka. Drum set berumur jutaan tahun dan juga gitar listrik yang tampak renta dan jelek karena sering diservis dan dipaksakan dan juga saxophone yang warna kilapnya tak lagi terlihat, mendampingi mereka dalam sebuah lagu klasik yang menyapa para penumpang seakan akan mengucapkan “selamat datang” di Surabaya. Kalau boleh aku mau menyebut mereka “senior band”, atau “lansia band”, atau juga “jompo band” jika melihat personilnya secara fisik, namun ketika mendengarkan alunan lagu yang mereka bawakan dengan merdu dan syahdu dengan kombinasi ketukan drum yang slow namun sempat membawa diriku melayang dan juga petikan gitar yang sempat membuat mataku terpejam sekaligus alunan halus dari saxophone butut yang bisa menyeretku kembali ke masa masa tahun 80an, bolehlah kusebut mereka “Bon Jovi Surabaya” yang terdampar di sebuah sudut kecil di stasiun Surabaya ini. Hidup mereka ditentukan oleh sebuah kotak kaleng berlapiskan kain hijau yang menjadi media tempat penyaluran rasa simpati atau rasa kagum orang orang kepada music yang mereka bawakan.
Aku berjalan, menjauhi mereka, menuju kereta, kembali ke Malang, selamat tinggal Bon Jovi Surabaya, maaf, aku lupa memberikan uang dua ribu rupiah yang ada disakuku, mungkin lain kali. Aku pasti datang lagi.
(sebuah refleksi)

Monday, January 25, 2010

ambil nyawaku esok pagi


pagi ini kuterbangun diatas tubuh wanita
yang bahkan tak kukenal namanya
dengan santai kutengadahkan kepalaku meneguknya
dan siang ini, harus jadi korban nyawa, dua orang manusia
kusesakkan asap hina dalam paru paruku
kupandangi judi judi kebiadaban duniawiku
tak habis dan tak elak sudah dosa dosaku
yang kupersembahkan tiap hari untukMU

Tuhanku, sore ini kusudahi sudah, selesai, habis
kurentangkan sajadahku, solat lima waktu
tertunduk diahapanMU, meringkuk, bersujud
menangis, tersedu, khusu' yang terlalu.
namun yang kutahu hanya masalah waktu,
kembali lagi aku akan membangkangMU
jadi, kumohon, -- ambillah nyawaku esok
pagi buta.
sebelum kumulai lagi iblisku.

Saturday, January 16, 2010

segelas kopi ditengah dinginnya malam

segelas kopi ditengah dinginnya malam
yang gelap gulita, beku yang mencekam
dan angin yang menusuk nusuk tulang rusuk.
telah habis kuteguk.–

Tuesday, December 15, 2009

mom.

Some say, If my eyes was not too blind to see
And if my mind was not so indifferent and busy
I will realize that i’m too blind, my stupid eyes
And have a cold and stubborn heart as ice
I didn’t see her, walking weakly — without fear
And I will surely realize,– the change in her hair
That starts turning gray as her step moving farther
And farther, with all kind of pain she has suffer
Well, for this long I didn’t realize the sign
I didn’t notice, and I had been being blind.
until I, something so weakly to be heard
silently said like the weakest whisper
“I am a mother”,——— voicelessly and quiet.
and she, never! — for a second, said,– “I’m tired”
(surely!! a relflection)

Friday, November 20, 2009

the terrible rain is terrific

What’s wrong for having a terrible rain?
To just sit and stare and not complain
So can the people have some rest
Hiding or sink in a thick blanket,
Or put cold the hands in a vest
And close the eyes in a warmer nest
Cause outside is all wet.
What’s wrong for having a little rare sleep?
In busy working day our mind has drown deep
Just swerve the rules, be warm and stay
And say “the rain” as a little lies
That saved you from boring busy day
“The rain is terrible and cold as ice”
Is all that you need to say.
To have rare rest and slight stay
(a reflection)

Wednesday, October 14, 2009

pagi ini kuantar ayahku ke medan perang


Jam alarm telah berteriak teriak mengoyak ngoyak telingaku, berteriak sekeras kerasnya untuk memberitahuku bahwa adzan subuh kurang begitu tegas dan kuat untuk dapat membukakan mataku. Aku tak acuh mendengar mereka, para perusak tidur, aku membiarkanya terus berteriak, aku berpura pura menjadi orang tuli, dan terlebih lagi, aku berpura pura tidak menjadi orang islam dengan mengacuhkan panggilan bilal yang melafalkan bahasa asing dari timur tengah yang disebut “adzan” itu. Sampai akhirnya ayahku, membangunkanku dengan hanya berkata “nak, tangi! Antarkan aku!”. Aku terperanjat,.. dan kuingat bahwa kemarin malam aku berjanji untuk mengantarkanya pergi ke medan perang.

Aku terbangun, menyia nyiakan waktu tidurku yang masih tersisa sekitar 2jam. Ayahku berkata “pakai peralatanmu, berlengkap diri lah!, aku mau solat subuh dulu!”. Beliau kemudian mengambil wudhu dan menunaikan ibadah sholatnya, dan aku sibuk mencari jaket anti peluruku dan menyiapkan kendaraan untuk mengantarkan ayahku. Beberapa menit kemudian kulihat ia sudah siap berangkat, ia memakai baju tipis yang tembus angin, kemeja berlengan panjang yang tak akan membuatnya bertahan oleh serangan angin sekecil apapun, celana kain biasa yang ketika angin menyapa dia akan sedikit merintih merasakan dingin nya pagi ini, kurasa sebutir peluru akan dapat dengan mudah menembus kulit dan dagingnya. Dia tak memakai sepatu perangnya, yaaah inilah seragam setiap hari yang ia pakai untuk berperang. Dia tak juga mambawa senjata berat, dia hanya membawa beberapa senjata ringan dan beberapa butir peluru yang ia letakkan di tas kecilnya, tas yang dulunya pernah kupakai untuk menuntut pendidikan di sekolah, tas yang belakangan ini kubuang dan kutaruh di gudang karena sudah jebol dan tidak layak pakai. Rupanya ayahku mengambilnya dan menjahitnya kembali agar bisa ia pakai untuk berperang. Dan aku, telah mendapatkan tas baru sementara ayahku hanya memakai tas seadanya.

Ia memberikan beberapa lembar uang kapadaku, “ini le, buat sekloahmu,..buat ibu belanja juga!, sampaikan salamku pada ibumu” ibuku rupanya sudah berangkat ke musola, solat berjamaah disana. Melihat uang itu, aku teringat isi meja dapur yang beberapa hari ini telah kosong, hanya ada nasi dan beberapa piring bekas lauk yang sudah tak ada lagi lauknya, yaaah beberapa hari ini tak ada cukup makanan untuk dimakan, aku pun biasanya pulang malam dan langsung tidur untuk melupakan rasa laparku, kulihat tiap malam ibuku juga telah tertidur, mungkin beliau juga menghindari rasa lapar yang merobek robek perut. Aku juga teringat pada beberapa temanku yang belakangan ini menagih uang buku karena aku hutang untuk mencopy beberapa buku untuk sekolahku, beberapa hari ini aku hanya bisa mengucap “maaf aku masih belum punya uang, mungkin kalau bisa besok segera kubayar”. Menerima uang itu rasanya gembira sekali, kuucap rasa beribu ribu terimakasihku kepadanya lewat tundukan kepalaku dan senyum kecilku, mulutku terlalu sombong dan angkuh untuk mengucapkan secuil kata “terimakasih” sungguh aku adalah anak yang durhaka, terlebih lagi karena beberapa hari ini aku sempat jengkel kepada ayahku karena belum juga bisa memberikan biaya untuk hidup, sumpahh,..aku adalah anak yang kurang ajar!!

Kami berangkat, kubawa ia ke tempat para berkumpulnya pasukan pasukan lain yang siap diangkut untuk ditempatkan di medan medan perang di berbagai pelosok negeri. Kulewati jalan yang berdebu sedingin salju,.. beberapa truk besar ikut lewat membawa beberapa pasukan, ada juga yang membawa bahan bahan perang,..kami melawati jalanan itu, tanpa berbekal senjata, tanpa takut resiko tertembak di perjalanan. Kita tak bertemu seorangpun yang kita kenal, sampai pada akhirnya kita sampai di kantor, tempat pemberangkatan para pasukan. Ini adalah saat untuk melepas ayahku, dia kembali berkata “jangan lupa uangnya kau pakai untuk sekolah juga”, kujawab kata kata terakhirnya itu dengan kata “iya” dan kemudian kucium tangannya tanda aku akan melapaskanya pergi,. Ia pun segera bergegas menuju kantor termpat berkumpulnya para prajurit, orang orang yang meninggalkan orang yang dicintainya, orang yang pergi sebagai harapan para sanak keluarga, orang yang ketika berangkat akan sangat dirindukan dan bisa membuat sedih anggota keluarganya, orang yang sangat diharapkan untuk cepat kembali, dan orang yang ketika sekembalinya nanti akan dihadiahi senyum gembira dan tetesan air mata sebagai wujud terimakasih kepada sang pencipta karena teah mengembalikanya.

Kulihat ayahku dengan tegas bergegas menuju sebuah kantor yang hanya diterangi lampu neon itu, dia berjalan dengan tegas, menyatakan bahwa ia siap mati dan juga siap berjuang untuk keluarganya, untuk dua anaknya yang sedang tertidur di rumah dan lagi lagi melupakan solat subuhnya, untuk satu anaknya yang bersedia mengantarkanya sampai sejauh ini, dan untuk seorang wanita yang oleh anak anaknya dipanggil dan disebut sebagai “ibu”, untuk seorang wanita yang telah menjadikanya seorang ayah. Dan dia pergi, menjauh, menuju sebuah medan di negeri antah berantah, kau tau?,.. tak membawa senjata,.. karena yang dibawa didalamnya hanya sebutir peluru,.. sedangkan senjatanya, kubawa pulang, katanya “untuk jaga jaga kau di jalan”,.. tak seharusnya kulepas ayahku kesana, bukankan seharusnya aku yang berangkat kesana?
Dia sempat menoleh, berpaling kepadaku,..

Tak tau kata apa yang tersirat ketika dia menoleh kebelakang dan menatapku kembali yang masih menunggunya,.. namun yang pasti, mungkin dia akan pulang nanti malam,. Dan kuharap dia pulang nanti malam


Aku pergi, pulang, dan sesampainya dirumah akan kutunaikan solat subuh yang telah tertunda beberapa hari ini.


(sebuah refleksi)

semalam di terminal behind the scene

rasanya gak akan nyambung baca ini kalo belum baca semalam di terminal part 1 dan 2,..
Semalam di terminal, beberapa jam yang telah kuhabiskan di terminal berisikan orang orang berseragam “FIGHT FOR LIFE”, tempat orang orang yang memiliki selera kenikmatan dan kesejahteraan yang sangat buruk, tempat kumpulan orang orang yang siap mati kapan saja demi sedetik masa depan hidupnya, demi beberapa detik yang mungkin mereka persembahkan untuk anaknya yang sedang tertidur pulas dibalik hangatnya selimut, atau demi seorang istri yang mungkin sedang menunggunya dirumah, demi sebuah asbes rumah yg rusak, yang seharusnya sudah diganti karena hujan mulai menyapa, demi kaca yg sudah pecah namun tetap dipasang, demi genteng yang sudah tak mampu menahan tembusnya air hujan, demi gedek reyot yang tertembus angin, dan demi makanan dan lauk yang tak pernah baru.
Pakaian yang mereka kenakan malam ini adalah seragam seorang patriot hidup,.
Dan senyum yang mereka bawa setiap harinya adalah lilin yang mungkin mudah terkoyak oleh angin,..lilin yang mudah padam,.. dan sudah kulihat usaha mereka mempertahankannya supaya gak padam (pake cempluk atau strongking,..heheh)
Hal pertama yang kuperhatikan adalah hubungan antara terang bulan di meja ibu penjual kopi dan rombong terang bulan di sebelah yang kira kira berada 10 meter dari tempat si ibu penjual kopi. Rombong terang bulan 10 meters away from me adalah mantan terang bulan favorit warga sekitar sini, aku ingat ketika kecil kira kira aku masih SD, ayahku selalu mengajak aku untuk membeli terang bulan disana,.. waktu itu terang bulan adalah makanan yang mewah buatku, mungkiin hanya 3bulan sekali aku membelinya,..haha sedih kuingat masa laluku,.. aku hanya bisa menikmati terang bulan 1 kali tiga bulan kalau lagi beruntung,..kalo tidak yaaa mungkin selama 1tahun penuh aku belum bisa mencicipinya,.. tapi satu hal yang membuatku tetap TABAH dalam hal ini,..yaitu “aku tak terlalu seka terang bulan” hehehheheheeeee,…..
Rombong itu kini tampak tua, reyot, kotor,..kurasa ini adalah rombong yang sejak dulu dipakai,..tak ada perubahan,.. Cat coklat rombong itu khas cat avian yang dicampur dengan minyak gas karena tiner memang terlalu mahal dan terlalu mewah, atau mungkin si bapak penjual tak mau rombongnya terlalu mewah, karena mungkin orang jadi tidak membeli terang bulan, malah membeli rombongnya (kalo terlalu bagus). Dam lampu 5 watt penerang rombong itu tampak sangat redup, mungkin sama redupnya dengan rejeki yang datang hari ini. Dulu pernah semasa kecilku rombong ini menggunakan lampu neon 100 watt, kurasa lampu lampu itu adalah alat refleksi betapa susahnya mengais rejeki di tanah yang banyak ternoda oleh darah rakyatnya sendiri ini.
Terang bulan yang dulunya tenar dan sempat menjadi legenda masarakat gadang, lowokdoro kacuk dan sekitarnya itu kini bagaikan jam antik yang tidak lagi berdetak,..seperti jam di jalan lonceng,.. Yang akhirnya dijebol dan dipinggirkan,.. tak banyak pembeli yang datang. tak sedikitpun orang yang tak lagi acuh pada sang terang bulan legenda itu,..sungguh nasib memang berkata lain, maklum terang bulan itu tak berinovasi,..rasa yang ada hanyalah coklat dan kacang,.. very classic,..
Rupanya terang bulan yang kumakan mendampingi nikmatnya kopi dan rokok LA ini, yang kuambil dari meja sang ibu penjual kopi itu mungkin adalah terang bulan legenda itu,.. tak begitu sedap rasanya bagi orang sok modern seperti aku,..lidahku sudah terlalu hina karena terbius oleh produk produk import, terbius oleh kosakata rasa lidah baru dari terang bulan isi sosis, keju, paprika, jamur, daging dll yg dijual di GENTENG ABANG..sehingga tak bisa merasakan enaknya terang bulan legenda yang sedari manghrib tadi sudah tertiup dan dibekukan oleh dinginnya angin sehingga lidahku menterjemahkan rasa terang bulan itu sebagai “anyep, asem, kecut, dan eneg” sungguh sombong sekali lidah hinaku ini,..kukutuk diriku karna hal ini!!
Sungguh tak kutemukan rasa yang solid dari terang bulan ini,..rasanya sangat abstrak,..tak ada manis yang pasti, tak ada asin yang pasti, dan tak ada asam yang pasti,.. kukutuk lagi diriku karma tak menghargai sang mantan idola,.. kukutuk lagi diriku, terlebih lagi karena tak bisa menghargai sejarah,.. aku bukan warga Negara yang baik
Dibalik semua itu ada satu kebenaran,..yaitu rasa terang bulan itu memang eneg, buktinya tak ada yang mau makan,..hahahahah (ampun pak) yaaaaaaaaah,..sang legenda memang saatnya tergulingkan oleh terang bulan modern ala genteng abang.(pizza hut)
Dan pandanganku beralih pada tahu petis, beserta petisnya, beserta wadah petis yang klasik sekali (kotor=klasik), beserta lombok yg warnanya sudah tidak jelas (entah hijau atau merah atau kuning, yang jelas ada warna coklat, hasil “kohesi”, menempelnya molekul molekul debu dengan molekul lombok), dan yang menarik, petis di dinding dinding wadah nya,..yang sudah kering karma memang hanya dicuci sebulan atau dua bulan sekali.
Kira kira tahu petis itu umurnya baru sehari,.. masih orematur bagi mahluk hidup, namun untuk sebuah makanan tak ada kata premature, yang ada hanyalah kedaluarsa,..6 jam=kedaluarsa hahaha,…
Kalau kuurutkan kira kira yang tertua dari anggota gerombolan tahu petis itu adalah wadah petis, berumur kira kira 16tahun, waaaa masih remaja,..kira2 wadah ini dibuat era 90an, kelihatan dari coraknya, tapi itu tak begitu berbahaya,.. yang termuda dan namun walaupun muda tapi berbahaya adalah si tahu,.. kira kira baru tadi pagi si ibu mungkin membalinya di pasar,.. tapi itu kira kira 20 jam yang lalu,.. 20 jam tertiup debu tentu saja tahu itu sudah dimodifikasi dengan debu kotoran dan lain lain,..apalagi tangan tangan pembali yang biasanya memilih milih tahu sebelum dimakan,..menambah daftar penyakit dan kuman yang menempel pada tahu itu,..hahahhahaha,…asik aja! SIKAT BOSS!! Sebaiknya anda piker terlebih dahulu sebelum menyantap tahu itu,..anda bisa menjadi kandidat terkuat calon penderita diare (seperti aning) hahahahahaha,..
Gak ada yg mewah disana, termasuk wajahku,.. aku tak merasa bahwa wajahku cukup untuk dikategorikan sebagai wajah mewah. Ketika kesana rambutku acak2an khas rambut bangun tidur, aku pun hanya menggunakan jaket berwarna hijau seperti warna semen, yaah,..temanku menyebutnya “jaket semen”, jaket bekas yang kubeli di comboran seharga 7ribu rupiah saja waktu aku SMP kelas 2 (kira kira 6 tahun yang lalu),..jaket yang akhir2 ini aku WENTER (aku kasi pewarna tekstil berwarna hitam) supaya tak begitu kelihatan gembel,.. jaket yang mengikutsertakan diriku sebagai anggota kaum kaum lower class, jaket yang membuatku disebut “gembel” oleh teman temanku, jaket yang tak membuat wanita tertarik padaku (kecuali satu orang), jaket yang bersamaku ketika kehujanan, jaket yang kucuci hanya beberapa bulan sekali, jaket yang kusebut “jaket jok” karena sering kuletakkan di jok karena kurasa jaket itu tak akan hilang walaupun kutaruh di sembarang tempat, jaket yang hari ini kupakai menuju terminal,..bergabung dengan mereka. Jaket yang merupakan isyarat “HALO, AKU DATANG” kepada penghuni terminal, dan jaket yang membuat mereka memberikan isyarat kepadaku “SELAMAT DATANG”,.. tapi lepas dari kata “tak ada yang mewah” semua hal itu sangat menarik,.. tak terbelikan oleh apapun,… dan sumpahh,..aku tak bisa membumbui cerita ini dengan humor lagi,..karena aku memang tak ingin mentertawakan mereka kali ini, terlebih lagi, aku hanyalah seorang anak petani, tak pantas aku menghina mereka,.. karena aku mungkin adalah bagian dari mereka.
Kutulis behind the scene ini sembari mendengarkan lagu dari Coldplay “Fix you”, dan jemari tanganku selalu terhenti ketika Chris Martin sampai pada sebuah lirik lagunya “when you try your best but you don’t succeeded” yang mungkin keadaan dalam lirik ini pernah mereka alami,..Dan lagu ini yang mungkin adalah refleksi dari secercah lilin dari dalam diriku, yang mungkin kuharap aku bisa memperbaiki keadaan seperti ini, keadaan mereka. (mimpi mimpiku)
Sorri karena kali ini cerita ini gak begitu menarik,..ini hanyalah behind the scene
Aku, si penulis, yang kemarin mungkin bisa menulis kata kata nakal dan ngawur sekali, penuh ejekan dan hinaan,.. untuk kali ini, untuk behind the scene ini, yang gak hanya “behind the scene”, tapi juga “behind my scene, inside mine” dan setelah melihat semua ini, aku merasa hina,. Terlebih lagi jika aku tak bisa tersenyum dan tertawa lebih baik dari mereka,..
Sekali lagi
“aku merasa hina, jika aku tidak bisa tersenyum dan tertawa lebih baik dari mereka”
Habis.